Ikhwah yang Dirindukan

Ikhwah yang Dirindukan


Menjadi ikhwah adalah pilihan. Menjadi ikhwah, adalah kebanggan. Sebab ikhwah adalah bagian dari dakwah; dakwah akan kokoh dengan ikhwah yang memesona, ikhwah akan dengan sepenuh hati bergabung dan mengembangkan sayap-sayap dakwah yang diamanahkan kepadanya.

Ikhwah, kadang takpopuler. Ikhwah, kadang hanya seorang tukang sablon. Ikhwah bisa jadi, hanya seorang karyawan pabrik. Ikhwah, di antaranya juga hanya seorang guru. Tapi atas itu semua; ikhwah senantiasa ikhlas dalam ibadah, lurus dalam aqidah, mandiri dalam finansial, memesona dalam akhlak, dan rapi dalam setiap urusannya.

Selain itu, yang paling khas dari seorang ikhwah yang aktif dalam dakwah, adalah hangatnya ukhuwah, lembutnya bulir kalimat yang meluncur dari lisannya, juga hujjah yang kuat, tegas, meski tetap santun.

Izinkan kami bertutur tentang salah satu dari mereka yang kita sebut dengan ikhwah itu. Kurus. Pendek. Rambut agak panjang. Kulit hitam. Bahasa medok. Sukunya jawa. Ketika pertama melihatnya, mungkin diri akan memandang sebelah mata.


Namun, jika amati mendalam; dalam tatapan matanya ada cita-cita yang mengakar kuat akan tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala yang memang paling tinggi atas kalimat/ajaran selainnya.

Maka tatapan mata itu, akan bisa dirasakan tatkala kita mulai menyapanya, ucapkan salam untuknya, kemudian berjabat tangan erat, dilanjutkan dengan cipika-cipiki pertanda sayang, lalu pertanyaan yang amat tulus, “Apa kabar, Akhi?”

Selanjutnya, meski baru sekali jumpa di dunia nyata, ia bisa menemukan potensi yang terkandung dalam diri sahabatnya itu. Karenanya, dia akan menawarkan serangkaian proyek kebaikan, kemudian memberikan kepercayaan penuh dengan tetap mengontrol; sebab siapa pun kita selama masih menjadi manusia, pastilah mungkin untuk kerjakan salah.


Dalam sepanjang interaksi dengannya, kita tak akan banyak dizhalimi. Dia akan memberikan hak sebelum kita menagihnya. Bahkan, ketika misalnya, dalam sehari anda tak bisa dihubungi, dia akan segera mengirimi pulsa dengan jumlah yang tak sedikit.

Alasannya, setelah dikonfirmasi, ia akan menjawab, “Ana ikuti kajian. Kata Ustadz, ‘Jika ada saudara yang tak menjawab saat dihubungi, coba kirimi pulsa. Siapa tahu ia tak bisa membalas pesan antum karena pulsanya habis.’”

Sungguh, ini bak mimpi. Tapi fakta adanya.

Singkatnya, semakin lama berinteraksi, anda akan menemukan semakin banyak kebaikan dalam dirinya yang menjadi daftar alasan supaya anda semakin mencintainya karena Allah Ta’ala. Sebab Dialah Zat yang menyatukan hati orang-orang beriman dalam ikatan dakwah di jalan-Nya.

Itulah ikhwah. Ada kekhasan kebaikan yang senantiasa terhubung satu dengan yang lainnya. Maka, jangan heran jika anda menemuinya dalam kehidupan nyata.

Ketika itu, saat Allah Ta’ala kurniakan rezeki bertemu dengannya, nikmatilah sensasi kebaikan yang senantiasa ditaburkannya. Pasalnya; anda akan sering mendapatkan jemputan gratis untuk menghadiri kajian jika belum memiliki kendaraan, ditraktir makan ketika tidak sengaja bersua di warung sate, disenyumi dari awal hingga akhir jumpa, ditanyai kabar diri dan keluarga, diberikan kerjaan jika memang ia seorang pengusaha, bahkan; anda akan sering ditanya ‘Sudah siap nikah? Ana ada akhwat nih’, jika memang anda masih lajang atau, ingin dan mampu nikah lagi. Ups… []

Tidak ada komentar